Memulai Jalan Pagi
Hari kedua belas di bulan Januari,
rasanya belum terlambat untuk hobi saya yang cukup lama tidak dilakukan. Biasanya
saya hanya bersepeda, itu pun hanya sebentar. Saya kurang menikmati bersepeda,
mungkin karena saya mesti memperhatikan jalan dengan lebih hati-hati.
Berbeda dengan berjalan kaki,
saya bebas melihat banyak hal dengan sembrono hehe. Dan lagi, berjalan kaki
pikiran saya merasa lebih tenang.
Saat saya di purwokerto, tepatnya
di kos Eyang Sukirah. Saya sering sekali jalan pagi. Saya melakukannya biasanya
mulai pukul 5 lebih. Saya akan menggunakan celana panjang training dan tidak
memakai alas kaki alias nyeker.
Nggak tahu kenapa, saya nggak suka
pakai sepatu, seperti yang dilakukan kebanyakan anak-anak muda saat itu. Saya merasa
momen terbaik jalan kaki yah nggak pakai sepatu atau alas kaki apapun. Jangan berpikir
pakai sandal juga yah.
Tapi ada alasan kuat sih kenapa
saya berjalan kaki. Saya ingat Bapak Abdul Wahid B.S, beliau dosen semasa di
perkuliahan, pernah menjelaskan kalau berjalan kaki membantu kita juga untuk
menemukan ide untuk menulis. Kebetulan saat itu saya memang cukup terperangkap
di dalam dunia khayalan, jadi saya membutuhkan ide. Nggak lama juga saya
menemukan kata-kata yang sama, tapi ini datang dari pebisnis dan juga influencer.
Namanya Pak Win, beliau juga membuat ciutan di twitter ya kurang lebih sama lah.
Wah, ternyata tulisan saya cukup
melebar. Ya nggak apalah.
Nah hari ini saat jalan pagi,
saya mulai menangkap hal-hal kecil yang kerap saya tidak bisa perhatikan. Di mulai
dari rumah, saya sudah melalui banyak hal sebenarnya. Inilah kenapa saya lebih
senang jalan kaki dari pada bersepeda. Saya bisa memperhatikan pedagang serabi,
pedagang sayur, ibu-ibu yang berkerumun, dan juga anak-anak santri yang pulang dari mengaji dengan lebih detail. Itu merupakan hal yang cukup
menyenangkan. Saya membayangkan kompleksitas manusia-manusia sejak pagi,
bukankah ini menyenangkan.
Oke, ini saja. Besok lagi.


Komentar
Posting Komentar